
Ketika tiga sahabat menyukai satu orang yang sama.
Aku Ve, 16 tahun, pelajar, sama seperti kalian. Hidup normal tak ada yang spesial, hanya saja satu perbedaanku dengan kalian. Aku berani. Berani menceritakan kisahku pada kalian yang menurutku sebagian dari kalian yang membaca kisahku pernah mengalami hal yang sama sepertiku. Dan ini kisahku…
Dimulai dari Sandra. Dia salah satu teman terdekatku. Tak pernah mau kalah walaupun selalu aku yang menang. Sok dewasa padahal pikiran masih anak-anak. Dan ada satu hal yang kurasa dia sembunyikan dariku, entah apa tapi kupikir aku tau.
Kedua Ata, humoris, terlalu dikekang ortu. Tapi sering keluyuran tanpa izin. Dibanding dengan Sandra, aku lebih dekat dengan Ata. Kupikir dialah yang terbaik, namun pada akhirnya?
Entah sahabat atau bukan, tapi kami sebut itu sahabat. Sebelumnya bagiku tak ada teman sepenting mereka. Apapun ku lewatkan demi berkumpul bersama mereka. Meski mama sering ngomel, gara-garanya pekerjaan rumah kulalaikan cuma buat main bersama mereka. Pekerjaan rumah dalam hal ini, ngepel, nyapu, beres-beres kamar,dsb. Yang kurasa tak layak dicontoh oleh kalian.
Ada satu orang lagi, Angga. Pangeranku. Dia sempurna. Kurasa dialah awal masalah bagi kami. Diantara kami bertiga, Angga paling akrab denganku.
Kemudian satu hal mengusikku. Tingkah laku Sandra, aku tau dia menyukai Angga, begitu pula aku. Tapi kami tak pernah membicarakan hal ini, berpikir akan mengatakan hal ini pada Sandra saja tidak pernah dan kurasa Sandra sependapat denganku. Hal ini bisa mengganggu hubungan persahabatan kami. Bisa dikatakan seperti itu.
Ata, aku tau Sandra menyukai Angga darinya. Walaupun sudah terlihat jelas dari tingkah laku Sandra. Kuceritakan perasaanku tentang Angga pada Ata. Mungkin dia bisa membantuku. Dia mendukungku. Dia netral, mendukungku maupun Sandra. Tapi aku ragu akan perasaan Angga. Ata juga menyemangatiku, apapun akhirnya harus dihadapi. Aku percaya padanya.
Tapi saat itu, ketika kami bertiga bersama disana ada Angga. Kau tau apa yang dikatakan Ata padaku?
“Untuk terakhir kalinya, baru saja Angga melihat ke arahmu”, Ata membuatku tersipu. Betapa malu dan senangnya aku. Namun saat ku terdiam, ku lihat hal yang sama Ata katakan pada Sandra. Membuat Sandra melakukan hal yang sama sepertiku. Apa maksudnya?
Lama ku terdiam merenungkan sikap Ata. Baru ku teringat perkataan Ata beberapa waktu yang lalu.
“Kenapa tidak dengan aku saja si Angga?”, kupikir dia hanya bercanda saat itu.
Sejak itu aku mulai berpikir. Benarkah persahabatan kami ini tulus? Atau hanya baik di depanmu dan buruk dibelakangmu? Mereka menikammu dari belakang. Perlukah kita berkorban demi mereka? Melewatkan kesempatan yang kita impikan demi mereka? Mereka yang mengatas namakan persahabatan hanya demi keegoisan.
Kadang terpikir olehku, sudahkah aku menjadi sahabat yang baik untuk mereka? Sudahkan aku menjadi sahabat yang benar-benar dibutuhkan oleh mereka? Apa karena aku memperlakukan itu pada mereka sehingga mereka tega melakukan ini padaku? Dan kupikir pada akhirnya persahabatan kami hanya menghasilkan pengkhianatan.
Untuk Angga, terserah kau pilih siapa saja diantara kami. Aku tak peduli. Kehadiranmu seolah membuka mataku tentang inti persahabatan kami. Mungkin akhirnya kau jadi pemicu hancurnya persahabatan ini.
Sandra, jujurlah pada perasaanmu. Jujurlah pada semuanya. Kau tak bisa menutupi apa yang kau rasakan selamanya. Pada akhirnya bau bangkai pun akan tercium pula.
Ata, kau jahat. Aku berani mengatakan itu karena begitulah nyatanya.
Untukku, apa jadinya persahabatanku nanti?
Terakhir untuk semua, yang telah meluangkan waktu membaca kisahku. Lihatlah diri kalian. Nilai diri kalian. Sudahkah kalian menjadi sahabat yang benar? Sahabat yang tak hanya dekat saat butuh kemudian jauh saat tak ada masalah, tapi setiap waktu sahabat itu ada, suka, duka, jalani bersama.
Ada satu hal yang belum ku ceritakan. Mungkin kalian menganggapku jahat, sok tau, egois dan hal hal buruk lain yang kusimpulkan dari sikap para sahabatku. Tapi aku tau mereka. Aku kenal mereka. Dan aku mengerti mereka. Ketika kau mulai menilai orang lain buruk, lihatlah dirimu dan kau akan temukan keburuan itulah yang ada pada dirimu. Ini bukan tentang sahabatku, tapi ini tentang aku. Awal belum ku perkenalkan namaku. Velicia Sandra Natali itulah namaku dan merekalah aku.
Aku Ve, 16 tahun, pelajar, sama seperti kalian. Hidup normal tak ada yang spesial, hanya saja satu perbedaanku dengan kalian. Aku berani. Berani menceritakan kisahku pada kalian yang menurutku sebagian dari kalian yang membaca kisahku pernah mengalami hal yang sama sepertiku. Dan ini kisahku…
Dimulai dari Sandra. Dia salah satu teman terdekatku. Tak pernah mau kalah walaupun selalu aku yang menang. Sok dewasa padahal pikiran masih anak-anak. Dan ada satu hal yang kurasa dia sembunyikan dariku, entah apa tapi kupikir aku tau.
Kedua Ata, humoris, terlalu dikekang ortu. Tapi sering keluyuran tanpa izin. Dibanding dengan Sandra, aku lebih dekat dengan Ata. Kupikir dialah yang terbaik, namun pada akhirnya?
Entah sahabat atau bukan, tapi kami sebut itu sahabat. Sebelumnya bagiku tak ada teman sepenting mereka. Apapun ku lewatkan demi berkumpul bersama mereka. Meski mama sering ngomel, gara-garanya pekerjaan rumah kulalaikan cuma buat main bersama mereka. Pekerjaan rumah dalam hal ini, ngepel, nyapu, beres-beres kamar,dsb. Yang kurasa tak layak dicontoh oleh kalian.
Ada satu orang lagi, Angga. Pangeranku. Dia sempurna. Kurasa dialah awal masalah bagi kami. Diantara kami bertiga, Angga paling akrab denganku.
Kemudian satu hal mengusikku. Tingkah laku Sandra, aku tau dia menyukai Angga, begitu pula aku. Tapi kami tak pernah membicarakan hal ini, berpikir akan mengatakan hal ini pada Sandra saja tidak pernah dan kurasa Sandra sependapat denganku. Hal ini bisa mengganggu hubungan persahabatan kami. Bisa dikatakan seperti itu.
Ata, aku tau Sandra menyukai Angga darinya. Walaupun sudah terlihat jelas dari tingkah laku Sandra. Kuceritakan perasaanku tentang Angga pada Ata. Mungkin dia bisa membantuku. Dia mendukungku. Dia netral, mendukungku maupun Sandra. Tapi aku ragu akan perasaan Angga. Ata juga menyemangatiku, apapun akhirnya harus dihadapi. Aku percaya padanya.
Tapi saat itu, ketika kami bertiga bersama disana ada Angga. Kau tau apa yang dikatakan Ata padaku?
“Untuk terakhir kalinya, baru saja Angga melihat ke arahmu”, Ata membuatku tersipu. Betapa malu dan senangnya aku. Namun saat ku terdiam, ku lihat hal yang sama Ata katakan pada Sandra. Membuat Sandra melakukan hal yang sama sepertiku. Apa maksudnya?
Lama ku terdiam merenungkan sikap Ata. Baru ku teringat perkataan Ata beberapa waktu yang lalu.
“Kenapa tidak dengan aku saja si Angga?”, kupikir dia hanya bercanda saat itu.
Sejak itu aku mulai berpikir. Benarkah persahabatan kami ini tulus? Atau hanya baik di depanmu dan buruk dibelakangmu? Mereka menikammu dari belakang. Perlukah kita berkorban demi mereka? Melewatkan kesempatan yang kita impikan demi mereka? Mereka yang mengatas namakan persahabatan hanya demi keegoisan.
Kadang terpikir olehku, sudahkah aku menjadi sahabat yang baik untuk mereka? Sudahkan aku menjadi sahabat yang benar-benar dibutuhkan oleh mereka? Apa karena aku memperlakukan itu pada mereka sehingga mereka tega melakukan ini padaku? Dan kupikir pada akhirnya persahabatan kami hanya menghasilkan pengkhianatan.
Untuk Angga, terserah kau pilih siapa saja diantara kami. Aku tak peduli. Kehadiranmu seolah membuka mataku tentang inti persahabatan kami. Mungkin akhirnya kau jadi pemicu hancurnya persahabatan ini.
Sandra, jujurlah pada perasaanmu. Jujurlah pada semuanya. Kau tak bisa menutupi apa yang kau rasakan selamanya. Pada akhirnya bau bangkai pun akan tercium pula.
Ata, kau jahat. Aku berani mengatakan itu karena begitulah nyatanya.
Untukku, apa jadinya persahabatanku nanti?
Terakhir untuk semua, yang telah meluangkan waktu membaca kisahku. Lihatlah diri kalian. Nilai diri kalian. Sudahkah kalian menjadi sahabat yang benar? Sahabat yang tak hanya dekat saat butuh kemudian jauh saat tak ada masalah, tapi setiap waktu sahabat itu ada, suka, duka, jalani bersama.
Ada satu hal yang belum ku ceritakan. Mungkin kalian menganggapku jahat, sok tau, egois dan hal hal buruk lain yang kusimpulkan dari sikap para sahabatku. Tapi aku tau mereka. Aku kenal mereka. Dan aku mengerti mereka. Ketika kau mulai menilai orang lain buruk, lihatlah dirimu dan kau akan temukan keburuan itulah yang ada pada dirimu. Ini bukan tentang sahabatku, tapi ini tentang aku. Awal belum ku perkenalkan namaku. Velicia Sandra Natali itulah namaku dan merekalah aku.

